Beliau adalah hadiah terbesar bagi Muslimin di abad ini. Khodimul
Ma’had Darul Musthofa dan Dar Azzahra, Tarim, Hadhramaut, Yaman. Beliau
telah mempunyai murid yang telah tersebar hingga ke seluruh penjuru
dunia termasuk di Indonesia. Metode beliau dalam tarbiyah adalah
Mendalami Ilmu, Mensucikan Hati dan Dakwah Ilallah.
Bekal yang hakiki adalah bekal yang terus menerus bermanfaat bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Adapun sebaik-baik bekal menuju negeri abadi adalah taqwa. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (Qs. Al-Baqarah: 197)
Showing posts with label Habaib. Show all posts
Showing posts with label Habaib. Show all posts
Saturday, 25 January 2014
Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf
Beliau adalah seorang Allamah, Arif Billah, mempunyai kedalaman ilmu
dan diikuti oleh luhurnya budi pekerti. Beliau adalah salah satu
dzurriyah Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallama yang selalu
istiqomah di jalan yang telah ditempuh oleh kakek kakek beliau yakni
jalan Ahlusunnah wal Jamaah
Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul Qadir bin Ali bin Umar bin
Segaf bin Muhammad bin Umar bin Thoha bin Umar bin Thoha bin Umar
ash-Shofi bin Abdurrahman bin Muhammad bin Ali bin Sayyidina Syekh
Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf bin Syekh Muhammad Maula
Ad-Dawilayh bin Syekh Ali Shohibud Dark bin Sayyidina Al-Imam Alwi
Al-Ghuyur bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad bin
Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina
Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad
Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina
Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad
bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- ImamMuhammad
An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam
Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina
Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul
Jannah Sayyidina Al-Husein Rodiyallahu ‘Anhum
Habib Syech bin 'Abdul Qodir Assegaf
Di tengah riuh ramainya bumi Indonesia dengan persoalan-persoalan di segala lini kehidupan, terdapat sosok Habib Syekh “the Contender” yang datang menandingi (melawan) dengan “Gerakan Shalawat”nya.
“Rasul adalah orang yang paling bahagia
jika umatnya bisa bahagia. Salawat kepada Nabi bisa disuarakan dalam
kondisi apapun, bahkan saat harus berjuang menegakkan kebenaran”, kata
Mahfud MD dalam Pengajian Akbar IPHI bersama Habib Syekh yang dihadiri
ribuan umat muslim di Lap. Kota Barat, Solo (7/4/2012)
Orang boleh jadi belum mengenal Habib
Syekh, tapi cepat atau lambat, Sang Habib akan segera datang menyapa
dengan lantunan suara salawat yang begitu merdu, tentu beserta dengan
ribuan lebih jamaah setia yang sudah lebih dulu “akrab” dengannya.
Suaranya yang berat, berwibawa lagi khas tidak hanya “menyihir”
(menghipnotis) ribuan jamaah, tapi juga “menghentak” para kawula muda
yang biasanya dengan berpakaian putih-putih mendatangi pengajian. Mereka
berarak-arakan mengibarkan bendera layaknya sebuah konvoi. Tidak
sembarang bendera, tapi bertuliskan “Syekher Mania ”, dan juga ada
bendera-bendera lain yang berkibar mendampingi seperti bendera
“Slankers” dan supporter bola tertentu.
Siapa Sang Habib Itu?
Tuesday, 14 January 2014
Empat Ajakan Habib Syech di Bulan Maulid
Habib
Syech bin Abdul Qadir Assegaf dalam perayaan Mauilid Nabi di Meteseh,
Semarang, Jawa Tengah, Senin (13/1), menyampaikan empat poin penting
yang hendaknya diperhatikan jamaah yang hadir.
Ia mengajak, pertama, ketika memanggil Nabi hendaknya tidak njangkar (langsung memanggil namanya). Panggillah Nabi dengan sapaan kehormatan sebagaimana para ulama contohkan, misalnya sayyidina, maulana, habibina, qurrati a’yun, syafi’ina dan sebagainya.
“Allah saja memanggil Nabi tidak njangkar, misalnya ya ayyuhal muddatstsir, ya ayyuhal muzzammil, ya ayuhan nabiyyu, dan lain sebagainya,” tutur Habib Syech.
Ia mengajak, pertama, ketika memanggil Nabi hendaknya tidak njangkar (langsung memanggil namanya). Panggillah Nabi dengan sapaan kehormatan sebagaimana para ulama contohkan, misalnya sayyidina, maulana, habibina, qurrati a’yun, syafi’ina dan sebagainya.
“Allah saja memanggil Nabi tidak njangkar, misalnya ya ayyuhal muddatstsir, ya ayyuhal muzzammil, ya ayuhan nabiyyu, dan lain sebagainya,” tutur Habib Syech.
Subscribe to:
Posts (Atom)
